KARANGANYAR – Lantaran selama kurang lebih dua hari Sastro Setu (60) warga Melikan, Popongan, Karanganyar, yang diduga menjadi korban dalam kejadian longsor talud yang ada di sebelah barat jembatan Temuireng, Tegalgede, Karanganyar Senin (15/11) ikut dalam melakukan proses pencarian.
Wakapolres Karanganyar Kompol Purbo Adjar Waskito, mengungkapkan lantaran sampai dengan saat ini proses pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan baik dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD dan relawan belum membuahkan hasil, karena banyaknya material dan diduga adanya tumpukan beton yang ada di dasar Sungai, maka pihaknya mengajak sejumlah komunitas jeep untuk membantu dalam melakukan proses pencarian.
“Kita gunakan mereka komunitas jeep untuk mengangkat pecahan beton yang diduga masih menutupi dasar sungai. Dengan menggunakan tali sling yang dikaitkan dengan dinamo yang ada di kendaraan jeep, agar bisa terangkat,” terang Wakapolres Karanganyar Kompol Purbo Adjar Waskito. Selain itu, Wakapolres mengatakan bahwa Sat Samapta Polres karanganyar juga terus menerjunkan unit anjing pelacak untuk membantu mnendeteksi keberadaan korban.

Diketahui sebelumnya, Koordinator lapangan dari Basarnas Kota Solo Tri Puji Sugiharto mengatakan, pencarian terhadap Sastro Setu kembali dilanjutkan Rabu (17/11) pagi. Jika kemarin personel gabungan dibagi menjadi tiga tim, pada hari ketiga pencarian ini personel hanya dibagi menjadi dua tim. Mereka akan fokus terhadap proses pencarian di titik dimana Sastro diduga hilang.
“Dua tim ini kita bagi, yang pertama di titik utama kemarin. Selanjutnya yang kedua melakukan penyisiran lagi sampai ke jembatan buk Siwaluh,” terang Tri Puji, Rabu (17/11).
Dalam koordinasi dan evaluasi yang dilakukan oleh tim gabungan, Tri mengungkapkan, korban diduga masih berada di titik dekat lokasi awal hilang. Hal itu diketahui lantaran sandal dan linggis yang ditemukan berada tak jauh dari posisi korban sebelum kejadian.
“Kemungkinan masih ada bongkahan beton bangunan talut yang menutupi korban di dasar sungai. Karena tepat di sebelah utara itu ada trap-trapan atau seperti palung sungai dan kemungkinan bongkahan beton itu menutupi palung tersebut,” imbuhnya.


























